Kapolres Tegal Kota Himbau Masyarakat Patuhi Physical Distancing Dan Social Distancing

yahya, 08 Apr 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

Tegal. Sulitnya masyarakat untuk mematuhi himbauan dilakukannya jaga jarak fisik atau physical distancing dan maupun hindari konsentrasi massa atau social distancing menjadikan keprihatinan para pengambil kebijakan disebuah daerah tidak terkecuali yang terjadi di Kota Tegal. Seperti yang diungkapkan Kapolres Tegal Kota, AKBP Siti Rondhijah, S.Si, M.Kes saat memberikan pandangannya dalam rapat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang diadakan di Pelataran Pendopo Ki Gede Sebayu Kota Tegal, Selasa (7/4).

Menurut Kapolres, masyarakat sepertinya kurang peduli terhadap ancaman bahayanya penyebaran virus corona yang pada tingkat dunia sudah banyak jatuh korban meninggal dunia. Bahkan di Kota Tegal sendiri sudah terdapat jatuh korban.

" Hasil dari saya turun lapangan, semakin hari saya melihat bahwa masyarakat kurang peduli, kurang memahami bahwa ini semua dilakukan untuk mereka. Untuk itu saya brrharap pada rekan-rekan yang ada dikelurahan, kecamatan, Rt, Rw semuanya harus terus mensosialisasikan, terus menggaungkan, mengedukasi pada masyarakat pentingnya mereka untuk social distancing, physycal distancing, " Himbaunya.

Terkait pelaksanaan percepatan penanganan gugus tugas covid-19, dirinya mengharapkan agar semua personil yang terlibat dalam gugus tugas dapat melaksanakan tugas sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

" Kita fokus pada kegiatan itu. Fokus pada kegiatan masing-masing. Karena semua sudah dibagi sesuai dengan porsinya. Setelah itu kita akan evaluasi pekerjaan apa yang sudah dilakukan dan pekerjaan apa yang menjadi kendala. Kita evaluasi apa yang harus kita tindak-lanjuti. Tindakan-tindakan apa yang harus kita lakukan untuk kendala-kendala itu supaya kita bisa jalankan sesuai dengan rencana yang sudah dipersiapkan, " Ujar Kapolres pemilik akun fb dengan nama Rondhi ini.

Kapolres juga mengingatkan warga kota Tegal agar menjalankan pola hidup bersih dan sehat. Menurutnya hal itu sangat perlu untuk terus disampaikan.

" Karena kalau tidak, kita sudah capai-capai, kita sudah buat segala rencana, segala upaya, tapi mereka tidak peduli, " Katanya.

Selanjutnya Kapolres juga mengingatkan masyarakat tentang kekuatiran sebagian anggota masyarakat terhadap psikologis para tenaga medis seperti dokter, perawat yang berjuang digaris depan untuk menolong para korban Covid-19.

" Kalau misalnya petugas kesehatan yang berada di garda depan yang berhadapan dengan orang-orang sakit ini sudah capai sudah menyerah, apa jadinya. Kalau masyarakat sakit, mereka lari ke rumah sakit, kemudian tenaga medisnya tidak mampu atau tidak sanggup karena begitu banyaknya, mungkin kelelahan akhirnya jadi masalah dan ujungnya jadi konflik sosial, " Jelas Kapolres.

Selanjutnya Siti Rondhijah juga menyampaikan pandangannya tentang potensi konflik dalam permasalahan covid-19 ini. Menurutnya tidak hanya permasalahan kesehatan saja tetapi ada beberapa masalah yang muncul seperti meluasnya wabah virus corona itu sendiri dan munculnya gangguan-gangguan kamtibmas. Munculnya kecenderungan pelanggaran hukum dalam situasi seperti itu semisal ketika orang ditolak rumah sakit karena sudah over capacity, orang terhambat akses jalannya atau juga ruang geraknya mulai merasa terbatasi maka itu menjadi potensi konflik sosial maupun konflik lainnya.

" Ketika orang sudah mulai dibatas-batasi, engga boleh jualan, engga boleh ini engga boleh itu, engga boleh lewat dan sebagainya, mereka akan berani melanggar hukum. Engga peduli. Kalau otak sudah di perut, yang menggerakan badan ini perut. Mereka akan berusaha caranya bagaimana untuk mengisi perut. Tidak peduli itu milik orang. Asalnya dari wabah, kemudian konflik sosial, " Kapolres mengingatkan.

" Oleh karena pesan saya pada rekan-rekan seperti yang berada di rt, rw, Lurah, Camat harus serempak menyampaikan pesan ini. Jangan menganggap enteng, jangan menganggap remeh. Ketika semua menganggap remeh dan kemudian mulai satu satu kena corona, baru mereka akan sadar, " Terang Kapolres.

Selanjutnya Polwan pemilik roman cantik ini mengapresiasi langkah cepat pemerintah Kota Tegal yang berupaya maksimal memikirkan keselamatan warganya. Salah satunya dengan pemadaman PJU atau penerangan jalan umum yang merupakan bagian dari strategi mengendalikan warga untuk social distancing. Namun Kapolres memberikan pandangan teknis yang terkait dengan persoalan keamanan.

" Rupanya apa yang sudah dilakukan pemerintah kota Tegal ini luar biasa memikirkan kita. Hanya saya punya saran pada pak Walikota agar kalau sekiranya pju dinyalakan setelah jam 9 saja. Karena saya melihat aktifitas dari masyarakat itu seperti tidak terpengaruh. Walaupun gelap, mereka tetap saja jalan-jalan apalagi diterangin. Seakan adanya wabah corona seperti sudah tidak ada lagi, " Usulnya.

Bagi Kapolres, asumsinya ketika PJU dinyalakan diatas jam 9 malam, masyarakat sudah enggan bepergian dengan waktu yang sudah mendekati larut malam. Hal itu dikatakannya perlu dipertimbangkan karena kondisi gelap membuka peluang potensi kriminalitas. Meaki demikian hal yang paling penting menurutnya bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa kebijakan-kebijakan tersebut ataupun himbauan untuk physical distancing dan social distancing untuk mereka. (Anis Yahya / Foto : Istimewa)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu